Dinkes Blitar Garap Pengobatan Tradisional, Bentuk Kelompok Asuhan Mandiri TOGA dan Akupreseur

Pertemuan Sosialisasi Program Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Asuhan Mandiri Tanaman Obat Kelurga (TOGA) dan Ketrampilan yang digelar Dinkes Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Pertemuan Sosialisasi Program Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Asuhan Mandiri Tanaman Obat Kelurga (TOGA) dan Ketrampilan yang digelar Dinkes Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

LAMONGANTIMES, BLITAR – Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menyelenggarakan Pertemuan Sosialisasi Program Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Asuhan Mandiri Tanaman Obat Kelurga (TOGA) dan Ketrampilan, di Aula Lantai 3 Kantor Sekretariat Pemkab Blitar, Kamis (29/3/2018). Acara dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blitar, Ny Ninik Rijanto.  

Sosialisasi ini diikuti oleh pengurus PKK Kabupaten Blitar, Camat dan Ketua Tim Penggerak PKK tingkat kecamatan se-Kabupaten Blitar, Kepala Puskesmas dan pelayanan tradisional tingkat Puskesmas se Kabupaten Blitar.  Narasumber pada acara  ini  adalah Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional Dinkes Provinsi Jatim Elmy Mufidah, dan Fasilitator Kelompok Asuhan Mandiri Toga dan Ketrampilan Faiza Indra Dewi.

Kasi Pelayanan Kesehatan Tradisional Dinkes Kabupaten Blitar, Siwi Lestari, mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan  tentang program pelayanan kesehatan tradisional, asuhan mandiri TOGA dan akupresur. Kemudian cara pengembangannya, dan manfaatnya bagi masyarakat.Outputnya Dinkes berharap ke depan akan terbentuk kelompok Asuhan Mandiri TOGA di seluruh desa di wilayah Kabupaten Blitar.

“Tujuan dari kegiatan ini agar lintas sector terkait maupun lintas program dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam pelayanan kesehatan tradisional," kata dia.

Selanjutnya informasi itu diteruskan kepada masyarakat. Masyarakat akan membentuk kelompok asuhan mandiri TOGA. Nantinya kami juga akan melatih pengelola program kesehatan tradisional dari masing-masing Puskesmas sebagai fasilitator asuhan mandiri. Fasilitator ini akan memberikan orientasi  dan pendampingan kepada kader asuhan mandiri ” kata Siwi Lestari.

Dijelaskan, saat ini di Kabupaten Blitar baru 9 kecamatan yang memiliki kelompok asuhan mandiri. Masing-masing kecamatan Wonodadi, Udanawu, Kademangan, Doko, Wates, Binangun, Selorejo dan Panggungrejo. Dinkes berharap seluruh desa di Kabupaten Blitar memiliki kelompok asuhan mandiri TOGA.

“Kelompok asuhan mandiri ini kajian manfaatnya adalah untuk mengatasi penyakit ringan yang ada di keluarga. Apabila sakit tidak langsung harus ke Puskesmas, tapi bisa diatasi dengan tanaman TOGA dan akupreseure. Contohnya seperti penyakit batuk pilek, sesak napas, sakit kepala, asam lambung, dslb. Kita ingin kelompok asuhan mandiri bisa terbentuk di seluruh desa,” tukasnya.

Sementara Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blitar, Ny Ninik Rijanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemerintah bertanggung jawab memberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam upaya pengembangan kesehatan tradisional. Menurut sejarah dan budaya, hingga saat ini banyak dijumpai di Indonesia pelayanan kesehatan konvensional diarahkan untuk menciptakan masyarakat yang sehat, mandiri dan berkeadilan.

Hasil riset kesehatan dasar tahun 2010, menyebutkan 59.12% penduduk seluruh kelompok umur laki-laki dan perempuan di pedesaan maupun perkotaan menggunakan jamu yang merupakan produk obat tradisional di Indonesia.

“Untuk mengembangkan pelayanan kesehatan tradisional terutama dalam lingkup masyarakat, maka  kami memacu masyarakat untuk mengembangkan tanaman obat keluarga yang merupakan salah satu dari ujung tombak pengobatan tradisional di Indonesia melalui pembentukan kelompok asuhan mandiri TOGA. Saya ingin kelompok asuhan mandiri Toga ini dibentuk di seluruh Kabupaten Blitar,” tegasnya.

Lebih lanjut istri orang nomor satu di Kabupaten Blitar menyampaikan, dengan adanya lomba dan pembinaan TOGA di wilayah masing-masing diharapkan akan mampu memacu masyarakat dalam pemanfaatan toga. Yang mempunyai potensi besar sebagai preventif penyakit yang mampu menjaga masyarakat agar tetap sehat.

“Tahun 2017, Kabupaten Blitar telah mampu meraih prestasi nasional dengan menjadi juara dalam penilaian toga dan akupreseur melalui kelompok asuhan mandiri. Karena itulah wajib bagi kita untuk terus mengembangkan kelompok-kelompok asuhan mandiri di Kabupaten Blitar agar menjadi lebih baik lagi,” tandasnya.

Lebih lanjut Ninik Rijanto berharap dengan mengembangkan pelayanan kesehatan tradisional yang berstandart dan professional kedepannya nanti akan dapat memberikan alternatif pengobatan yang aman untuk masyarakat. Dan sekaligus dapat mempertahankan budaya Indonesia  untuk membangun Indonesia menuju arah lebih baik di bidang pelayanan kesehatan.

Dalam paparannya Elmy Mufidah dari Dinkes Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan tradisional telah diakui keberadaannya sejak dahulu kala dan dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Sampai saat ini pelayanan kesehatan tradisional  terus berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi disertai dengan peningkatan pemanfaatannya oleh masyarakat  sebagai imbas dari  semangat untuk kembali menggunakan hal-hal  yang   bersifat  alamiah  atau dikenal dengan istilah ’back to nature.

“Masyarakat sudah terlanjut jatuh cinta dengan pengobatan tradisional. Sehingga pemerintah berkewajiban untuk melindungi dan memberikan kepastian hukum pelayanan kesehatan tradisional,” katanya.

Untuk memacu perkembangan pengobatan tradisional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar lomba Pemanfaatan Taman Obat Tradisional Keluarga (TOGA) dan akupresur. Pada tahun 2017,  Kelompok Asuhan Mandiri TOGA asal Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, tampil sebagai yang yang terbaik se-Indonesia.

Menurutnya, konsep penyehatan tradisional itu sudah menjadi tradisi di suatu masyarakat tertentu. Seperti pijat, kerokan, bekam. Di daerah lain itu ada yang khas dan tidak dimiliki daerah lain. Inilah yang harus digali. "Kabupaten Blitar ini punya apa, tradisi penyehatan tradisional yang tak dimiliki darerah lain," kata dia.

Pelayanan kesehatan tradisional yang dikembangkan Kemenkes bukan klenik bukan ghaib dan tidak bertentangan dengan program pemerintah. Pelayanan kesehatan tradisional berdasarkan tanaman obat yang dapat digunakan masyarakat dalam mengatasi gangguan kesehatan secara mandiri (self-care), baik untuk pribadi maupun untuk keluarga melalui pemanfaatan TOGA..(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : A Yahya
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top