Ada Wisata Edukasi Tradisi Berkonsep Unik di Kota Batu

Salah satu Spot swafoto ayunan di Kebat Dusun Ngukir, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu Spot swafoto ayunan di Kebat Dusun Ngukir, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

LAMONGANTIMES, BATU – Warga Kota Batu terus menyuguhkan wisata edukasi yang berbeda dan unik. Seperti halnya wisata edukasi yang diberi nama Kampung Edisi Budaya Alam dan Tradisi (Kebat) di Dusun Ngukir, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo.

“Ini adalah wisata bertema cara menghargai alam, dan sebaliknya agar alam menghargai kita,” ungkap Siti Rahayu, Koordinator Kebat.

Sebelumnya wisata ini memiliki nama Ngukir Wisata Alam, namun seiring berjalannya waktu banyak konsep yang berubah. Saat ini destinasi ini banyak menonjolkan aspek edukasi.

Seperti mengarah pada tradisi sebuah kampung gubuk. Dengan mengenalkan kepada wisatawan sebuah tradisi, mulai dari pengenalan bahan-bahan seperti sebuh gubuk.

“Anak muda saat ini kan pasti jarang yang tahu kalau gubuk itu terbuat dari apa saja. Contohnya bambu yang dipakai apa saja dan sebagainya,” ujarnya kepada BatuTIMES.

Meski tempat wisata saat ini belum keseluruhan selesai, tetapi beberapa spot swafoto sudah tersedia. Pohon-pohon yang ada di sana juga dihiasi balutan kain lima warna yakni putih hijau, kuning, hitam, merah, dan hitam.

“Kenapa di sini setiap pohon kami balut dengan kain lima warna? Karena warna itu ada dalam diri kita yakni moncowarno. Sehingga setiap pohonnya kami beri itu,” ujar Rahayu.

Lalu diantara pepohonan itu terdapat ayunan yang terbuat dari ban bekas diberi beragam warna. Juga ada bekupon, spot swafoto berbentuk cinta, hingga gubuk yang dilengkapi dengan aksesoris seperti lesung. 

Ada juga tempat nongkrong tepat di pinggir sungai. Karena memang tempat wisata ini selain dipenuhi pepohonan juga dilewati aliran sunga brantas.

Di sana juga terdapat panggung dengan dekorasi pernak-pernik zaman dulu. Jika masuk ke tempat wisata ini wisatawan akan merasa berada pada masa tempo dulu.

Untuk masuk di wana wisata ini wisatawan hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 10 ribu.

Wisata ini akan terus dikembangkan, bahkan juga akan memberdayakan penduduk sekitar untuk menyempurnakan wisata ini.

“Karena wisata ini juga diperuntukkan untuk camping, sehingga kami nanti akan beri paket menginap hingga makannya,” imbuhnya.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono menambahkan Pemkot mendukung warganya yang kreatif untuk mengembangkan wisata di Kota Batu.

Terlebih jika tempat wisata itu ikut mengandung pemberdayaan masyarakat untuk menjalankan wisata tersebut.

“Bagus sekali kalau ada warga Kota Batu yang mengembangkan wisata, apalagi ditambah memberdayakan masyarakat kami sangat mengapresiasi hal ini,”  ujar Imam.

Bahkan jika nantinya memberikan dampak yang bagus untuk wisata di Kota Batu tidak menuntut kemungkinan Pemkot Batu bisa memberikan bantuan. “Jika nantinya kontribusinya bagus, kenapa tidak untuk kami alokasikan bantuan,” jelasnya.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Batu TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top