Telantar Empat Hari, PKL Asal Luar Kota Akhirnya Bisa Jualan di Semipro

Tenda DUM yang kosong selama semipro, akhirnya ditemnpati PKL luar Kota(Agus Salam/JatimTIMES)
Tenda DUM yang kosong selama semipro, akhirnya ditemnpati PKL luar Kota(Agus Salam/JatimTIMES)

LAMONGANTIMES, PROBOLINGGO – Setelah terkatung-katung nasibnya selama 4 hari, akhirnya Pedagang Kaki Lima (PKL) asal luar kota yang berjualan di Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo), akhirnya mendapat tempat. Puluhan PKL yang berasal dari sejumlah daerah ini, berjualan di tenda DUM, sisi barat panggung utama, Minggu (2/9).

Hanya saja, puluhan PKL tersebut hanya berjualan di tenda yang penutupnya serba putih tersebut dua hari yakni, Minggu dan Senin (3/9) malam. Empat hari sebelumnya, mereka berjualan di dalam alun-alun, areal yang dilarang berjualan selama gelaran semipro. Mereka mokong berjualan di dalam alun-alun, karena dilarang berjualan di jalan Agus Salam atau jalan depan masjid Agung.

Panitia penyelenggara memberlakukan steril di sepanjang jalan barat alun-alun. Para PKL luar kota sempat diusir saat jualan di areal steril pada hari pertama (Pembukaan) Semipro. Merekapun mencari tempat, namun lantaran tidak ada tempat di luar alun-alun, mereka menggelar dagangannya di dalam alun-alun. Akibat ulah itu, hampir setiap malam mereka diusir Satpol PP. "Alhamdulillah, kami sekarang sudah mendapat tempat,” ujar Ambon, salah satu PKL asal Surabaya.

Kini ia bersama teman-teman yang lain sudah tidak khawatir lagi berjualan di acara semipro. Tidak seperti  hari sebelumnya, yang tidak tenang berjualan, karena melanggar dan pindah-pindah tempat berjualan. Dirinya setiap malam didatangi petugas dan diminta pindah keluar alun-alun. “Setiap hari, kami cari tempat yang aman berjualan. Ya, jual singit-singitan agar tidak diketahui petugas,” tandasnya disela-sela menata dagangannya.

Ambon mengatakan, berterima kasih dengan Paguyuban PKL (P-PKL). Karena atas perjuangan paguyuban dirinya bersama puluhan pedagang yang senasib dengannya, ditampung di tenda DUM. Saat ditanya, apakah ditarik dana oleh Paguyuban, Ambon menggelengkan kepala, tanda tidak dipungut. “Enggak bayar. Kami hanya ditarik dana Rp100 ribu untuk biaya penerangan. Kan tenda DUM ini tidak ada lampunya. Masak saya mau jualan gelap-gelapan. Kalau bayar uang lampu, enggak masalah sih,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Alifaturohma ketua P-PKL mengatakan, PKL boleh berjualan di tenda tertutup DUM, setelah diizini oleh panitia penyelenggara semipro. Dalam hal ini, pemkot dan pihak Event Organizer (EO). Pihaknya yang meminta DUM untuk ditempati PKL. “Ya, alhamdulillah panitia memberi izin setelah beberapa kali saya meminta izin. Kami berterima kasih pada panitia, pemkot dan EO,” tandasnya.

Paguyuban berusaha mencari tempat alternatif untuk menfasilitasi PKL luar kota yang kadung datang di acara semipro. Sebab, saat menggelar dagangannya di alun-alun dan di jalan yang disterilkan, selalu diusir oleh petugas. Saat ditanya, penarikan biaya bagi PKL yang berjualan ditenda DUM, Alif membenarkannya. “Ya, kami tarik Rp100 ribu untuk biaya penerangan selama berjualan di tenda DUM. Tidak ada tarikan lain. Kasihan mereka,” pungkasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher : Yogi Iqbal
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top