Membuka Kenangan NIAC Mitra, Penakluk Klub Dunia dari Jawa Timur

Cover buku yang mengulas NIAC Mitra ini menggambarkan masa-masa kejayaan klub tersebuy di era 1980 an
Cover buku yang mengulas NIAC Mitra ini menggambarkan masa-masa kejayaan klub tersebuy di era 1980 an

LAMONGANTIMES, MALANG – Sekarang klub ini sudah tidak ada lagi. Tapi, NIAC Mitra meninggalkan jejak sejarah dan kenangan yang tak akan bisa terhapus dalam perjalanan sepak bola di Indonesia. 
NIAC Mitra? Mungkin itu yang akan muncul dalam benak para penggemar sepak bola, khususnya anak-anak muda. Sebuah hal yang wajar. 
 Ini karena sekarang dalam deretan klub yang berkompetisi di kancah sepak bola tanah air memang namanya sudah tidak ada lagi. Sejak 1989, klub ini secara resmi membubarkan diri karena sebuah kekecewaan yang begitu mendalam dari pemilik klub. 
 Memang, NIAC Mitra bukan sebuah klub yang didanai dan disokong oleh pemerintah melalui APBD. Karena seorang Agustinus Wenas, maka lahirlah sebuah klub yang bernama NIAC Mitra. 
 Awal berdirinya juga termasuk unik. Dengan latar belakang ingin berolahraga setelah terjebak dalam kesibukan bekerja, maka karyawan dari sebua tempat hiburan yang pernah ada di Surabaya berniat mendirikan klub. 
 Untuk  memberikan namanya, mereka harus melakukan sebuah pertemuan. Sebuah mama produk permen sempat dipakai (hal 2). Namun, atas kebijakan Wenas akhirnya nama yang dipakai Mitra sesuai nama sebuah tempat hiburan yang dimilikinya. 
 Meski klub karyawan tapi Wenas tak mau setengah-setengah dalam membina klub sepak bola. Dia mengutus orang-orangnya untuk mendatangkan pemain dengan kualitas jempolan. Asalnya pun bukan dari Surabaya atau  Jawa Timur. Pemain asal Sragen, Jawa Tengah, hingga Bandung, Jawa Barat, direkrut. Itu masih kurang, deretan pemain bagus asal Sulawesi ikut didatangkan. 
 Kumpulan pemain itu juga ditangani pelatih tak sembarangan. Mulai Andi Slamet, yang merupakan mantan pemain Persebaya Surabaya, hingga M. Basri, yang statusnya merupakan mantan pemain Timnas Indonesia. 
 Hasilnya bisa ditebak. Mitra selalu menjadi juara di setiap level. Hingga akhirnya, sebuah kompetisi baru di Indonesia, Liga Sepak Bola Utama (Galatama) membuat Wenas tertarik. Sayang, di musim pertama, 1979/1980, Mitra yang mendapat tambahan NIAC, sebuah tempat hiburan juga milik Wenas, gagal menjadi juara. 
 Kegagalannya pun bukan 100 persen gagal. Di jeda kompetisi, NIAC Mitra mampu mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi juara di sebuah turmamen di Bangladesh, Aga Khan Cup. Sayang, euforia membuat pemainnya lelah dan berimbas kepada penampilan di kompetisi lokal.  
 Untung, di musim keduanya, NIAC Mitra mampu mengobati kegagalan. Mereka mampu menjadi juara musim 1980-1982 (kompetisi berlangsung dua tahun). Ada faktor unik di belakangnya.
 Sebuah pertandingan yang mengecewakan membuat Wenas marah. Dia mengumpulkan pemain dan membakar kaos tim  produk luar negeri. Ternyata ini sangat jitu. Pemain terlecut semangatnya (hal 17). 
 Menjadi juara tak membuat Wenas puas. Dibukanya keran pemain asing menjadikan NIAC Mitra butuh suntikan. Dia dan Basri langsung berburu pemain bidikan. Pilihan jatuh kepada dua pemain Singapura, David Lee (kiper) dan penyerang Fandi Ahmad. 
 Sebuah rahasia terungkap dalam buku yang ditulis Sidiq Prasetyo, seorang jurnalis yang lama berkecimpung di desk olahraga tersebut. Fandi yang diburu klub raksasan Eropa Ajax Amsterdam, Belanda, itu  pindah ke NIAC Mitra bukan karena materi sebagai faktor utama. 
Lelaki  yang kini menangani Timnas Singapura U-23 tersebut dianjurkan sang kakek agar tidak boleh jauh-jauh darinya. Tentunya, NIAC Mitra yang berada di Surabaya menjadi pilihan Fandi (hal: 24). 
 Yang fenomenal dari NIAC Mitra adalah kemenangan 2-0 atas klub tangguh dunia asal Inggris Arsenal. Meski, sebenarnya pertandingan ini juga menjadi laga perpisahan David dan Fandi yang harus meninggalkan klubnya karena adanya aturan larangan pemain asing di sepak bola Indonesia (hal 30).
 Buku setebal 120 halaman ini tidak hanya menyajikan kisah sukses NIAC Mitra.Masa kelam dengan kasus yang menodai olahraga, suap, ditemukan di halaman 51-56. Menariknya, pada lembar tersebut oleh penulis diberi tanda berbeda, yakni halamannya diberi warna dasar hitam. 
 Untung, masalah tersebut tak membuat klub tersebut terpuruk. Satu musim seusainya, NIAC Mitra kembali menjadi juara. Buku NIAC Mitra, Klub Karyawan Yang Juara Galatama,  menulis juga akhir perjalanan klub milik Wenas tersebut. Sedih akhirnya klub legenda tersebut harus tiada. 
 Sayang, penulis tidak melanjutkan cerita tentang bagaimana kelanjutan usai NIAC Mitra bubar. Bisa jadi, ini menjadi sebuah hal yang dinantikan pembaca di-endingnya. Selain itu, tata letak isi layak menjadi perhatian dan perlu lebih ditingkatkan. 
 Meski begitu, NIAC Mitra, Klub Karyawan Yang Juara tetap layak dibaca. Isinya lumayan detail menggambarkan perjalanan klub itu dari awal hingga akhir. Rasanya belum ada buku yang membahas tentang klub-klub di era Galatama. Buku ini diharapkan bisa menambah kasanah tentang sepak bola di Indonesia. (*)

 

Resensi

BUKU: 
NIAC Mitra, Klub Karyawan Yang Juara Galatama

PENULIS
Sidiq Prasetyo 

PENERBIT
Pagan Pres

TEBAL BUKU
Ix +113 halaman

 

Pewarta : Aditya Fachril Bayu
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top