Wisata Jadi Mesin Keruk Uang Aji Mumpung, Disparbud Sebut Ulah Oknum dan Rugikan Mereka Sendiri

Kepala Disparbud Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara dalam acara Gebyar Seni di Turen. (Nana)
Kepala Disparbud Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara dalam acara Gebyar Seni di Turen. (Nana)

LAMONGANTIMES, MALANG – Kejengkelan pengunjung wisata saat berlibur ke wanawisata Coban Rais serta beberapa kasus sama yang viral di berbagai media sosial (medsos) dikarenakan banyaknya pungutan karcis  bisa jadi preseden buruk bagi dunia pariwisata di Kabupaten Malang.

Mesin keruk uang, aji mumpung serta sebutan lainnya menyebar luas di berbagai medsos atas pengelolaan wisata tersebut. Hal ini tentunya menjadi kontraproduktif dengan gencarnya Pemerintah Kabupaten (pemkab) Malang di sektor pariwisata. Yakni desa-desa diminta untuk menciptakan wisatanya oleh Wakil Bupati (Wabup) Malang HM. Sanusi.

Keluhan serta kejengkelan pengunjung wisata tentunya menjadi wajar. Di saat dalam satu lokasi wisata, berbagai areanya baru bisa dinikmati kalau membayar. Padahal di pintu masuk wisata juga sudah ditarik biaya.

Ini yang terjadi terhadap pengunjung di lokasi wisata Coban Rais. Si pengunjung akhirnya menumpahkan kekesalannya di salah satu media nasional. Sedangkan di berbagai grup Facebook pun, kondisi yang sama menyebar atas aji mumpung pengelola dalam menjadikan lokasi wisata sebagai mesin pengeruk uang di momen liburan panjang.

"Itu ulah oknum dan kerap terjadi setiap momen liburan panjang. Baik tahun baru, Lebaran serta hari libur nasional lainnya," kata Made Arya Wedanthara, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Senin (07/01/2019).

Made Arya kerap jengkel juga dengan kondisi tersebut. Sayangnya, Disparbud Kabupaten Malang tidak memiliki ranah untuk memberikan sanksi kepada para oknum yang disebutnya. Disparbud hanya bisa memberikan berbagai saran dan strategi kepada pengelola wisata untuk lebih selektif dalam memilih pegawainya.

Selain itu, ada pembinaan dan penguatan kesadaran kepada para pengelola wisata melalui berbagai kegiatan dalam mewujudkan sapta pesona di seluruh destinasi wisata di Kabupaten Malang. "Ranah kami hanya di sana. Berkali-kali kami ingatkan kepada pengelola wisata untuk memberikan yang terbaik kepada wisatawan. Promosi pariwisata yang kami lakukan selama ini agat ditindaklanjuti dengan sapta-pesona," ucap Made Arya kepada MalangTIMES.

Sayangnya, apa yang dilakukan Disparbud Kabupaten Malang ternyata di lapangan tidak berjalan. Aji mumpung yang diterapkan baik itu disebut oknum atau siapa pun yang menjadikan wisata mesin keruk uang di momen libur panjang terus saja terjadi.

Pikiran instan oknum pengelola wisata mengeruk uang dengan membludaknya wisatawan mengundang persoalan jangka panjang. Wisata desa dipertaruhkan kelanjutannya. Sebab, kata Made Arya, mengelola wisata bukan sekadar urusan saat ini atau dalam hitungan dua, tiga, lima tahun saja. "Tapi berkelanjutan, terus-menerus sampai anak cucu kita. Kalau ini (budaya aji mumpung keruk uang) terus terjadi, kasihan generasi yang akan datang menuai hasil buruk pengelola wisata saat ini," urainya.

Made Arya juga dengan tegas menyatakan, pola menjadikan wisata mesin keruk uang dengan memanfaatkan jurus aji mumpung akan merugikan mereka sendiri pada akhirnya. Terutama dengan semakin banyaknya  tempat wisata saat ini. Selain itu,  citra wisata yang kini masif ditumbuhkembangkan di berbagai desa akan kena getahnya juga.

"Pariwisata tidak bisa lepas dari citra yang kini mudah disebarluaskan lewat teknologi digital. Kalau baik pengelolaannya, maka akan cepat berkembangnya. Begitu pula sebaliknya," ujar Made Arya.

Disinggung mengenai tindak lanjut agar persoalan tersebut tidak menjadi preseden buruk ke depannya, Made Arya menjawab pihaknya akan terus melakukan berbagai pembinaan ke semua pengelola wisata yang ada di Kabupaten Malang. Tujuannya untuk lebih memaksimalkan pembinaan tersebut sehingga pengelola wisata maupun warga sekitar mampu mewujudkan sapta-pesona. Disparbud juga berharap agar pihak Perhutani ikut  dalam hal tersebut.

"Perhutani juga seharusnya ikut melakukan pembinaan kepada para pengelola wisata di wilayahnya. Kami sudah berupaya maksimal melakukan branding pariwisata dan memfasilitasi pengelolanya. Ini agar tidak terjadi seperti ini terus," pungkas Made Arya.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top