Curhat Kartini tentang Cinta, Simak Rasa Pahitnya

Cover film Surat Cinta Untuk Kartini (Ist)
Cover film Surat Cinta Untuk Kartini (Ist)

LAMONGANTIMES, MALANG – Raden Adjeng (RA) Kartini, tetaplah sosok perempuan seperti lainnya. 

Walau dikaruniai pemikiran luar biasa di zamannya, Kartini tetaplah seorang perempuan yang memiliki kehendak. 

Ia memiliki impian-impian sekaligus harapan terhadap masa depannya sebagai perempuan, terutama terkait cinta. 

Cinta yang mengantar seorang perempuan mengikat janji dengan seorang lelaki dengan dasar saling mencintai. 

Cinta agape, begitulah Gabriel Marcel, filsuf Perancis menamakannya. Dalam cinta agape menurut Gabriel,  ungkapan “Aku” dan “Engkau” menjadi “Kita”. 

Dalam konteks ini, “Aku” melihat diriku di dalam “dirimu” dan “Aku” menemukan “Engkau” di dalam “diriku”. 

Di konteks cinta inilah Kartini menemukan rasa getirnya. Rasa yang tidak bisa dilawan secara radikal. 

Hanya lewat tulisanlah Kartini berbicara tentang rasa getir cinta yang dialaminya. 

Maka, terbitlah buku Letters of a Javanese Princess (1912). Diterjemahkan dari bahasa Belanda asli oleh Agnes Louise Symmers dan awalnya diterbitkan oleh Alfred A. Knopf. 

Buku yang juga berisikan tentang pandangan Kartini yang wafat di usia muda setelah dirinya melahirkan seorang putra. Tepatnya 4 hari setelah melahirkan.

Lewat goresan tintanya, Kartini mengungkap pandangan dan perasaannya terkait cinta terhadap lawan jenis. 

Walaupun, Kartini yang begitu mencintai ayahnya, harus rela melepas segala pandangannya atas cinta. Kartini menikah dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri, pada tanggal 12 November 1903. 

Berikut kutipan Kartini tentang cinta dengan segala rasa pahit yang harus ditaklukkan sang putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara  setelah Kartini lahir.

"Love! what do we know here of love? How can we love a man whom we have never known? And how could he love us? That in itself would not be possible. Young girls and men must be kept rigidly apart, and are never allowed to meet."

Cinta! Apa yang kita ketahui tentang cinta? Bagaimana kita dapat mencintai seorang pria yang tak pernah kita kenal sebelumnya? Bagaimana pria itu dapat mencintai kita? Tentu saja mustahil. Perempuan dan laki-laki muda dipisahkan, dan tak pernah diijinkan untuk berjumpa. (Jepara - 25 Mei 1899)

"How can a man and woman love each other when they see each other for the first time in their lives after they are already fast bound in the chains of wedlock?"

Bagaimana mungkin seorang pria dan wanita dapat mencintai satu dengan yang lain ketika mereka baru berjumpa pertama kali dalam kehidupan ini setelah mereka terikat dalam pernikahan? (Jepara - 6 November 1899)
"I shall never, never fall in love. To love, there must first be respect, according to my thinking; and I can have no respect for the Javanese young man. How can I respect one who is married and a father, and who, when he has had enough of the mother of his children, brings another woman into his house?"

Saya tak akan pernah, tak akan pernah jatuh cinta. Mencintai, pertama-tama membutuhkan rasa hormat, menurut hemat saya; dan saya tidak dapat menghormati pemuda Jawa muda. 

Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang telah menikah dan menjadi seorang ayah, dan yang telah memiliki istri yang melahirkan anak-anaknya, membawa perempuan lain ke dalam rumahnya? (Jepara - 6 November 1899).
Pandangan cinta Kartini itu begitu tegas mencoba mendobrak budaya Jawa masa itu. 

Dimana perempuan berada pada posisi menerima apapun titah orang tua dalam persoalan cinta dan membangun sebuah keluarga. 

Tapi, Kartini pun menuliskan, "I think there is nothing finer than to be able to call a happy smile to a loved mouth—to see the sunshine break over another's face".

Tiada hal yang lebih indah selain dapat menerbitkan senyum di wajah mereka yang kita cinta. (November 1899).

Bukan hanya terkait persoalan cinta pribadi, Kartini pun menyinggung mengenai perlakuan Belanda terhadap pribumi sebangsanya. 

Kritikan keras Kartini tersebut sangatlah telak terhadap Belanda. 

"Too often we are made to feel that we Javanese are not really human beings at all. How do the Netherlanders expect to be loved by us when they treat us so? Love begets love, but scorn never yet aroused affection."

Terlalu sering kami merasakan bahwa kami, orang Jawa, bukanlah manusia sama sekali. Bagaimana mungkin orang-orang Belanda berharap untuk dicintai orang-orang Jawa, ketika mereka memperlakukan kami seperti ini? Cinta melahirkan cinta, tetapi hinaan tak akan pernah menimbulkan kasih sayang. (23 Agustust 1900).

Dilanjutkan dengan tulisan yang penuh harap dari Kartini atas nama cinta. "We wished to be loved - not feared."Kita berharap untuk dicintai - bukan ditakuti. (17 Agustus 1902).

Maka, seperti yang ditulis juga oleh Kartini, bahwa cinta adalah ikatan yang menyatukan kita. "Love is the bond which binds us together."


 

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top