Tebar Permusuhan Dua Perguruan Pencak Silat, Seorang Pemuda Diringkus Polisi

Pelaku Huda ditangkap Polres Blitar dan diamankan dengan sejumlah barang bukti ujaran kebencian.
Pelaku Huda ditangkap Polres Blitar dan diamankan dengan sejumlah barang bukti ujaran kebencian.

LAMONGANTIMES, BLITAR – Kepolisian Resort (Polres)  Blitar mengamankan pelaku ujaran kebencian, penghinaan dan pencemaran nama baik dua perguruan pencak silat. Pelaku  bernama Huda Riyan Nandas (22), warga Dusun Plampangan, Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, menyerahkan diri ke Polres Blitar diantar dua kelompok perguruan silat. Yakni  Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) dan Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT). 

Kapolres Blitar AKBP Anisullah M. Ridha mengatakan, pelaku mmebuat postingan di akun Facebook yang bertujuan mengadu domba dan menebar permusuhan dua pergruan pencak silat itu.

"Pelaku dengan sengaja mengubah singkatan dari kedua kelompok pencak silat di akun media sosial Facebook. Tujuanya untuk menebarkan kebencian dan permusuhan di antara kedua kelompok ini," ungkap kapolres, Jumat (17/5/201).

Postingan itu diunggah di akun Facebook milik pelaku pada 13 Mei 2019 lalu. Karena merasa menjadi korban penghinaan dan pencemaran nama baik, salah satu anggota IKSPI kemudian mendatangi rumah pelaku dan membawanya ke Polsek Kesamben.

 Pada saat yang bersamaan, beberapa orang dari PSHT yang juga menjadi korban penghinaan yang dilakukan pelaku ikut datang ke Mapolsek Kesamben. Kedua kelompok pencak silat ini kemudian mengantarkan pelaku ke Polres Blitar untuk diproses secara hukum dengan kawalan petugas Polsek Kesamben.

"Kami melakukan tindakan hukum terhadap kasus ini. Karena sebelumnya pernah beberapa kali  ada kejadian serupa yang berakhir dengan perdamaian namun tidak menimbulkan efek jera. Sehingga penyidik memutuskan untuk melakukan upaya hukum agar hal serupa tak terulang lagi" tandas kapolres.

Sementara itu, di hadapan polisi, pelaku mengaku memposting penghinaan dan pencemaran nama baik itu hanya karena iseng. Pelaku juga mengaku mendapatkan lambang kedua kelompok pencak silat itu dari internet.

Huda juga mengaku sebelumnya tidak pernah menjadi anggota ataupun merasa sakit hati dengan kedua kelompok perguruan pencak silat ini. "Awalnya bercanda sama teman-teman di warnet sampai kelepasan nulis postingan itu. Saya nggak ada sakit hati dan bukan anggota saya hanya iseng," ujar Huda. .

Dari kasus ini, polisi menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya sebuah ponsel, CPU komputer dan bukti tangkapan layar postingan penghinaan melalui akun facebook Huda Riyan Nandas. 

Pelaku dikenakan  Pasal 45A ayat 2 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE. Pelaku dinyatakan dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ancaman hukumannya maksimal 10 tahun penjara.

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top