Pameling, Buah Unggulan Nasional yang Terlupakan di Kabupaten Malang

Wabup Malang Sanusi saat melihat buah alpukat di acara Edi Wisata Padi, Singosari. (Humas)
Wabup Malang Sanusi saat melihat buah alpukat di acara Edi Wisata Padi, Singosari. (Humas)

LAMONGANTIMES, MALANG – Tahun 2015 lalu, Bupati Malang Dr H Rendra Kresna dalam kegiatan Bina Desa di Kecamatan Lawang pernah menyatakan ketertarikannya terhadap buah alpukat yang dibudidayakan oleh warga Wonorejo. Saat itu namanya masih alpukat Arjuno.

Rendra pun memberi nama buah alpukat itu dengan nama Pameling (ter-eling-eling; selalu ingat). Nama Pameling tersebut dimaksudkan agar setiap orang yang melihat dan merasakan kelezatan buah alpukat ini terus mengingatnya sehingga akan menjadikan alpukat ini primadona di antara buah lainnya yang tumbuh di Kabupaten Malang.

Hanya butuh dua tahun saja, alpukat Pameling membuktikan sebagai buah unggulan tongkat nasional. Dalam Pekan Nasional Petani Nelayan yang diadakan di Aceh, alpukat Pameling Wonorejo  mendapat peringkat juara II  sebagai buah unggulan nasional.

Hal ini membuktikan bahwa Kabupaten Malang bukan hanya memiliki buah apel dan jeruk. Tapi juga memiliki buah alpukat yang membuat siapa pun memakannya akan teringat kelezatannya.
"Kita kaya dengan hasil pertanian. Salah satunya alpukat. Kabupaten Malang di sektor hasil buah  bukan hanya apel dan jeruk," kata Wakil Bupati (Wabup) Malang Sanusi saat meninjau hasil buah petani Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, kelezatan buah alpukat yang masa panennya hanya sekitar enam bulan ini kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakatnya sendiri. Sehingga nama alpukat Pameling tertimbun nama-nama buah lain. 

"Padahal, kita tahu manfaat alpukat sangat baik bagi kesehatan. Yang unik, alpukat Pameling ini satu buahnya bisa  mencapai 1,9 kilogram," ujar Sanusi.

Alpukat Pameling Wonorejo, Lawang (Ist)

Dia berharap kepada dinas terkait untuk juga memperhatikan produk petani berupa buah yang tumbuh subur juga di berbagai wilayah Kabupaten Malang. "Tentu harapan kita di sektor pertanian bukan hanya beras, tapi juga sayuran dan buah juga bisa terdampingi. Ini bisa jadi potensi besar kalau terus dikawal," ucap Sanusi yang mencontohkan wilayah Pasuruan dengan kampung wisata alpukatnya.

Apa keistimewaan alpukat Pameling Wonorejo sehingga bisa menjadi juara II buah unggulan di tingkat nasional? Dari beberapa data dan informasi dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, keistimewaan alpukat Pameling adalah berbuah dua kali dalam setahun, yaitu musim rojo di bulan Juni dan saat musim apit di bulan Desember. 

Padahal, tanaman alpukat  adalah jenis tanaman buah-buahan yang biasanya berbuah satu tahun satu kali.  Saat berbunga pun, biasanya daun-daun pohon alpukat akan dimakan ulat terlebih dahulu. Tapi untuk alpukat Pameling, tidak terjadi adanya pemakanan daun oleh ulat. Diperkirakan Pameling merupakan alpukat yang mengalami mutasi genetika dan telah mengalami adaptasi sehingga menjadi varietas yang unggul di Desa Wonorejo.

Keunggulan lainnya adalah bobot alpukat yang jumbo dibanding jenis alpukat lainnya. Sedangkan rasa masih kalah dengan alpukat mentega. 

Dengan kondisi itu, para petani di Wonorejo pun melakukan berbagai penelitian agar mendapatkan rasa alpukat yang tidak kalah dengan alpukat mentega. Yakni dengan cara  understum (batang bawah, red) dengan alpukat jenis lain saat pencangkokan.  

Dengan berbagai keunggulan itu, maka Sanusi pun berharap agar seluruh potensi yang sudah diakui nasional bisa dikembangbiakkan. "Semua yang punya potensi diangkat dalam mencapai tiga program startegis Kabupaten Malang," pungkasnya.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top