Rengginang Sambigede, Kudapan Tradisional yang Masih Bertahan

Warga Desa Sambigede, para pembuat rengginang yang terus bertahan di era kudapan pabrikasi dan lainnya. (Nana)
Warga Desa Sambigede, para pembuat rengginang yang terus bertahan di era kudapan pabrikasi dan lainnya. (Nana)

LAMONGANTIMES, MALANG – Bagi masyarakat perdesaan, rengginang adalah kudapan favorit dalam segala cuaca. Kerap terhidang di berbagai hari besar maupun di dalam pesta rakyat. Pun, seringkali terhidang menemani warga dalam segala cuaca.

Berbahan beras ketan yang dibentuk bulat, serta dikeringkan dengan cara dijemur di bawah panas matahari secara langsung, rengginang masih terus bertahan di tengah maraknya kudapan pabrikasi dengan embel-embel modern. 
Ada yang bersetia dengan cita rasa masa lalu. Banyak pula yang memodifikasi  rengginang dengan berbagai rasa yang disesuaikan dengan lidah zaman saat ini. 

Rengginang kekinian pun menjadi "pesaing" bagi rengginang dengan model, pemasaran dan rasa asin gurihnya di tengah masifnya kudapan pabrik yang kini lebih mudah ditemukan masyarakat dibanding dengan rengginang. "Rengginang mungkin hampir dilupakan masyarakat saat ini. Selain pemasarannya yang terbatas, juga dimungkinkan para pembuatnya  harus menerima kenyataan tidak akan bisa bersaing dengan produk pabrikasi," ucap Decky Supriadi, sekertaris Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Minggu (07/07/2019).

Tapi, lanjut Decky, rengginang produk asli desa Sambigede tetap bertahan dengan berbagai kendala yang menghadang. Baik terkait pemasaran, melimpahnya kudapan pabrikan, sampai dengan pola atau gaya hidup masyarakat saat ini.

"Di sini masih bertahan sampai saat ini. Sangat lama sekali rengginang ada di Sambigede. Bahkan, perkembangannya cukup menggembirakan," ujarnya.

Dia lalu mencontohkan, 6 tahun lalu para pembuat rengginang di desanya hanya sekitar 50 orang. "Kini tercatat ada sekitar 150 pembuat rengginang. Sebagian besar kini berkelompok untuk lebih saling menguatkan menghadapi kendala yang ada dalam produksi rengginang," terang Decky.

Persaingan kudapan dewasa ini, terbilang sangat ketat untuk dapat diterima masyarakat. Terutama kudapan tradisional seperti rengginang. Selain harus berhadapan dengan kudapan pabrikasi, pelaku ekonomi rakyat ini pun bersaing sesama pelaku yang sama. Terutama mereka yang memang telah besar dan memiliki kapital yang kuat.

Hal ini pun dibenarkan oleh Samsul Hadi, pj kades Sambigede. Dia mengatakan, pelaku rengginang besar lebih fokus pada usahanya sendiri. "Hal inilah yang membuat kami mencoba membuat berbagai terobosan bagi pelaku usaha kecil rengginang. Agar mereka bisa juga eksis dan memiliki keterampilan lebih serta akses yang luas juga dalam berusaha," ujarnya.

Berbagai pelatihan dan bantuan alat produksi rengginang pun mulai diupayakan terus-menerus. Menggandeng berbagai instansi pemerintahan maupun pihak luar, para pelaku rengginang Sambigede mulai menunjukkan semangatnya untuk mengembalikan kejayaan rengginang.

Bahkan, untuk semakin menguatkan produk khas Sambigede sebagai desa rengginang, pemerintah desa berencana untuk membuat showroom khusus yang terletak di pintu masuk menuju desa. "Untuk akses pemasaran, kita rencana akan membuat toko untuk menampung produk warga," ucap Samsul.

Geliat rengginang Sambigede di tengah kudapan pabrikasi yang begitu mudah didapatkan di berbagai toko sampai warung di pelosok pedesaan. Sebenarnya memiliki potensi yang juga kuat. Decky mengatakan, untuk bahan dasar rengginang yang dibuat oleh sekitar 20 kelompok di desanya. Bahan dasar beras ketan yang dipasok petani desanya sudah tidak mampu dilayani kebutuhannya.

"Untuk beras saja para pembuat rengginang akhirnya membeli ke petani di luar desa. Ini potensi besar sebenarnya dan menunjukkan bahwa rengginang yang tradisional sebenarnya tetap memiliki pasarnya," ucap Deky.

Senada dengan yang disampaikan oleh Dodit Sugiarto, ketua Aku Mandiri Kabupaten Malang, yang juga membawahi UMKM yang menyampaikan bahwa begitu banyak produk masyarakat perdesaan yang sebenarnya memiliki potensi untuk mendongkrak perekonomian.
"Bahwa ada kendala, memang itu yang terjadi. Karena itu, kami berupaya merangkul pelaku usaha kecil melalui Asosiasi Aku Mandiri, bersama pihak terkait yang ada di desa," ujarnya.

Menurut Dodit, pemberdayaan adalah kata kuncinya. "Saat ini berjalan dan kita telah melakukannya di berbagai pelaku usaha. Salah satunya rengginang Sambigede ini. Potensi besar ini bisa bergerak lebih cepat dan siap bersaing dengan produk lainnya," pungkasnya.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]lamongantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]lamongantimes.com | marketing[at]lamongantimes.com
Top