Kayu sonokeling yang dibalak di depan Mapolsek Sumbergempol tergeletak di gudang PT. K (istimewa)

Kayu sonokeling yang dibalak di depan Mapolsek Sumbergempol tergeletak di gudang PT. K (istimewa)


Editor

A Yahya


Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) kantongi bukti dokumen pengiriman kayu sonokeling hasil pembalakan asal Tulungagung, ke sejumlah industri di Jawa Timur. Atas bukti itu, JPIK berencana melaporkan industri tersebut ke Ditjen Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Salah satunya adalah dokumen pengangkutan kayu rakyat dari Tulungagung ke salah satu industri di Mojokerto. Kayu ini dikirim oleh salah satu tersangka pembalakan liar sonokeling di Jalan Nasional Tulungagung dan Trenggalek, A yang sudah ditangkap Satreskrim Polres Trenggalek.

"Kayu dikirim pada 26 maret 2019, ke PT K di Mojokerto. PT K diketahui sebagai eksportir kayu sonokeling," ungkap Dinamisator JPIK Nasional, M Ichwan Musyofa, Senin (22/4).

Anehnya, dari dokumen itu tidak dilengkapi dengan Surat Angkutan Tumbuhan dan Satwa Dalam negeri (SATS-DN). Padahal sebagai industri yang berpengalaman, PT K melakukan cek ulang asal usul kayu. Namun ternyata PT K menerima kayu yang berasal dari penebangan liar.

Dari foto yang ditujukan oleh Ichwan, nampak gelondongan kayu sonokeling yang ditebang di depan Polsek Sumbergempol, tergeletak di gudang PT. K. Karena itu JPIK juga akan mengadukan PT K ke Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu (LVLK). "Kalau terbukti mereka melanggar izinnya bisa dicabut, kemudian ada denda Rp 250 juta," tegas Ichwan.

Tak hanya sekali, tersangka A dua kali mengirim sonokeling ke PT K di tanggal yang sama, 26 maret 2019. Kiriman pertama sebanyak 15 batang, yang mencapai 3 meter kubik. Kiriman kedua sebanyak 16 batang, dan setara dengan 2,9 meter kubik.

Selain itu, pada 11 Januari 2019, A mengirim sebanyak 2.136 batang sonokeling dari Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu. Padahal di Ngranti tidak ada industri maupun gudang kayu.

A kembali mengirim 861 batang sonokeling pada Bulan Februari. Pada Bulan Maret, A kembali mengirim sebanyak 1.208 batang, dan April sebanyak 117 batang. "Semua pengiriman itu memang dilengkapi dengan SATS-DN. Namun menurut kami dokumennya masih belum lengkap," ungkap Ichwan.

Pada SATS-DN seharusnya juga dilengkapi dengan dokumen asal-usul kayu. Misalnya kayu itu milik siapa, dan ditebang dari mana. Dokumen yang harus dicantumkan adalah nomor SPPT atau girik tanah lokasi pohon itu ditebang. "Penerima kayu ini juga industri yang melakukan usaha ekspor kayu. Karena mereka punya SATS-DN, ini masih sebatas dugaan dan dalam kajian kami," ujarnya.


End of content

No more pages to load