Ilustrasi suhu udara dingin di wilayah Malang Raya, embun beku di permukaan tenda para pendaki. (Foto: Dokumen BB TNBTS)

Ilustrasi suhu udara dingin di wilayah Malang Raya, embun beku di permukaan tenda para pendaki. (Foto: Dokumen BB TNBTS)



Warga yang tinggal di wilayah Malang Raya tampaknya mesti bersiap-siap menghadapi suhu udara yang lebih dingin lagi. 

Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meramalkan bahwa musim dingin akan berlangsung sepanjang kemarau.

Puncaknya, diperkirakan terjadi medio Juli-Agustus 2019 mendatang. 

Selama hampir dua pekan terakhir, suhu di area Malang Raya terasa lebih dingin dari biasanya. 

Angin dingin yang berembus selepas tengah hari kerap terasa dingin dan kering. 

Suhu udara lantas makin turun saat malam dan pagi hari. Rata-rata suhu berkisar 16 derajat Celsius, bahkan sempat menyentuh 15,6 derajat Celsius.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Kabupaten Malang, Aminudin Al Roniri mengatakan, Malang yang lebih dingin dari biasanya merupakan fenomena yang wajar saat musim kemarau. 

"Bagi warga asli, dinginnya Malang ini masih wajar. Tapi bagi pendatang, mungkin merasa kedinginan. Normalnya memang begini," ujarnya, melalui sambungan telepon. 

Berbeda dengan di siang hari. Aminudin mengatakan, suhu di musim kemarau saat siang hari lebih panas. 

Dalam laporan perkiraan cuaca di Stasiun Klimatologi Karangploso, suhu rata-rata pada siang hari mencapai 30 derajat Celsius.

"Memang musim kemarau itu ditandai dengan kondisi suhu yang dingin malam hari, puncaknya pagi hari. Kalau siang lebih panas menyengat," tuturnya.

Sementara itu, kelembaban udara berkisar 50 hingga 95 persen, angin dari arah timur menuju tenggara dengan kecepatan 05 hingga 35 kilometer per jam. 

"Ini akan lebih dingin lagi. Nanti ada angin kencang berdebu dan sebagainya. Kulit mulai kering. Ini tandanya puncak musim kemarau," urainya.

Menurut Aminudin, rata-rata suhu di Malang saat ini masih permulaan. Suhu lebih dingin diperkirakan akan dijumpai pada Juli hingga Agustus mendatang. 

"Bulan Agustus diperkirakan menjadi puncak musim kemarau dan rata-rata suhu di malam dan pagi hari akan terasa lebih dingin lagi," terangnya. 

Suhu udara ekstrem juga masih berlangsung di kawasan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS). 

Embun beku yang menyerupai lapisan es tipis masih muncul di dedaunan hingga permukaan tenda para pendaki. 

"Informasi dari masing-masing pos pengawasan, fenomena frozen masih ditemukan, kecuali di Penanjakan pada 18 Juni lalu nihil," ujar  Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS, Syarif Hidayat. 

Dilansir oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa suhu udara dingin tersebut terpengaruh dengan monsoon dingin Australia yang diperkirakan berlangsung mulai Juni hingga September 2019. 

Suhu udara yang dingin ini dipengaruhi adanya periode musim dingin di benua Australia yang berada di tekanan udara yang cukup tinggi. 

Hal itu membuat terbentuknya antisiklon di daerah tersebut serta massa udara yang bersifat dingin dan kering. 

Sedangkan, wilayah Asia sendiri mengalami musim panas dan terdapat daerah tekanan rendah sehingga terbentuk siklon.

Udara dingin tak hanya dirasakan di Pulau Jawa, namun berbagai wilayah di Indonesia juga merasakannya, seperti Bali, NTB dan NTT.

Penyebabnya adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia dan rendah di Asia yang menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia membawa udara dingin dan kering tersebut mengarah ke Asia melewati Indonesia.

Monsoon Dingin Australia juga menyebabkan suhu udara musim kemarau di Indonesia menjadi lebih dingin dari musim hujan. 

Monsoon Dingin Australia ini akan berlangsung dari hingga September nanti.


End of content

No more pages to load