Tiga sumber air yang ditunjukkan warga dan pejabat desa (Foto: Indra Setiawan/BondowosoTIMES)

Tiga sumber air yang ditunjukkan warga dan pejabat desa (Foto: Indra Setiawan/BondowosoTIMES)



Tidak banyak orang yang tahu, bahwa di balik terpencilnya sebuah wilayah, terdapat beberapa potensi alam yang langka nan unik, contohnya di Desa Gadingsari. Sebuah wilayah desa di Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso yang berjarak tempuh 9,4 Kilometer dari kota dan memakan waktu perjalanan 21 menit bila berkendara sepeda motor. Bersama warga, BondowosoTIMES berupaya menelusuri keunikan alam yang terdapat di daerah tersebut.

Tidak ada yang istimewa dari kegiatan warganya. Saat pagi menyingsing mereka keluar rumah untuk sekedar mandi di kali ataupun pergi ke sawah untuk bercocok tanam. Kegiatan itu menjadi rutinitas warga sekitar karena sebagian besar warganya merupakan petani. Terlihat juga beberapa orang dengan sabitnya memotong rumput dan segera memanggulnya menuju ternak-ternaknya.

Kami berbincang dengan beberapa warga tentang sumber air yang digunakan untuk kegiatan mandi masyarakat. Uniknya masyarakat membedakan air untuk mandi, cuci dan kakus (MCK). Masing-masing ada tempatnya dan tidak boleh dicampur baur berdasarkan kesepakatan warga. Untuk kegiatan mandi dan cuci mereka memilih sungai-sungai kecil karena jernih dan segar sejak dari hulunya. Sedangkan untuk buang air besar mereka memilih sungai-sungai besar yang tidak begitu bersih sejak dari hulunya.

Namun hal tersebut tidak berlaku bagi warga yang mampu, mereka sudah mempunyai kamar mandi untuk kegiatan MCKnya. Hanya satu yang menyatukan mereka, yaitu sumber mata air bersih sebagai konsumsi air minum setiap harinya. Uniknya lagi,  sumber mata air yang digunakan sebagai konsumsi air minum ada tiga, dan masing-masing memiliki rasa yang berbeda dengan tingkat kejernihan yang berbeda pula.

Melewati pematang sawah dan area perbukitan, BondowosoTIMES dan warga menelusuri jalan setapak untuk tiba di sumber air yang terletak di RT 11 Dusun Tegal Tengah. Anehnya, sekalipun saat itu terik matahari dan jam menunjukkan pukul 12.30 WIB, udara di sekitarnya tetap terasa sejuk karena dinaungi pepohonan yang rindang. “Di sini airnya dingin mas, meskipun siang hari,” ujar Arfan salah seorang warga kepada BondowosoTIMES. Dan sumber mata air di area tersebut dinamakan “Sumber Kidul” karena terletak paling selatan dari area pedukuhan.

Lalu perjalanan kami berlanjut, meninggalkan area pedukuhan Dusun Tegal Tengah. Dalam perjalanan, Arfan sesekali bercerita bahwa di wilayah RT 11 area perbukitan, terdapat legenda batu licin yang konon katanya seorang belanda mati di tempat karena terpeleset batu besar saat menunggang kuda untuk memburu para pejuang kemerdekaan yang bersembunyi dari kejaran belanda. “Di hutan ini dulu saya sering bermain petak umpet bersama teman-teman saya waktu kecil. Memang ada bekas jejak kuda di batunya, masyarakat sekitarnya menyebut batu itu sebagai batu licin,” kenang Arfan yang sekarang sudah menjadi mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Islam Kabupaten Bondowoso.

Tetiba di lokasi, kami mencicipi sumber mata air yang terletak di Dusun Krajan, RT 04. Mungkin karena letak sumber mata airnya di kelilingi oleh daun pandan, maka seperti yang diberitakan warga, air di sini rasanya sama persis dengan penggambaran iklan di televisi “kayak ada manis-manisnya”, dan warga menamai mata air tersebut “Sumber Pandan”. 

Usai itu, kami beristirahat sejenak di rumah Penduduk dan berbincang santai dengan beberapa warga, “Masyarakat sebenarnya butuh pipa paralon mas, sementara masih swadaya dan tidak cukup. Sudah ada sih yang berusaha menyalurkan air ke rumah-rumah, namun warga tak mampu merawatnya karena kekurangan biaya sehingga kadang-kadang jebol,” ungkap Kholifa (60 tahun) warga setempat saat mengutarakan keinginan warga. 

Hal senada juga diungkapkan Mitun, 65. Dia juga berharap ada pipa yang menyalurkan air ke permukiman penduduk. "Karena dulu saya yang mempelopori warga untuk urunan, tapi jangan dikomersilkan, hanya untuk konsumsi masyarakat saja,” kata dia. 

Di tempat berbeda, keesokan hari BondowosoTIMES mengunjungi  kepala Desa Gadingsari, Husni. “Memang benar di desa ini banyak sumber mata air bersih yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat, bahkan sumber air “Mak Edih” yang terletak di RT 5 memiliki keunikan berembun seperti soda di gelas saat dituangkan. Namun setelah beberapa saat, kembali jernih seperti air kebanyakan,” ungkap dia. 

Husni menjelaskan, sumber air “Mak Edih” sudah masuk dalam kegiatan BUMDES lengkap dengan fasilitas Water Metering (proses mengukur penggunaan air) dan Broncaptering (bangunan penangkap air baku dari mata air). “Ke depan, mudah-mudahan Desa Gadingsari banyak rejeki, saya ingin berkegiatan dengan masyarakat membuat air minum kemasan,” imbuhnya.


End of content

No more pages to load