Akademisi Universitas Petra Rudy Setiawan

Akademisi Universitas Petra Rudy Setiawan



Realisasi moda transportasi bawah tanah (subway) terus mendapat perhatian. Persiapan yang perlu dilakukan oleh Pemkot Surabaya adalah pendekatan untuk mengubah pola pikir pengguna transportasi publik.

Diketahui, gagasan subway tersebut lahir dari ide Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana. Ia terinspirasi dari MRT di Jakarta yang boleh dibilang terlambat untuk realisasinya.

Pakar sekaligus akademisi transportasi publik Universitas Petra Surabaya Rudy Setiawan menyatakan, pendekatan yang harus dilakukan pemkot adalah memulai dari kawasan pinggiran kota dari sekarang.

Salah satunya adalah kesiapan koridor-koridor dari rute yang dilalui harus diletakkan pada wilayah hunian padat penduduk. "Harus diletakkan di titik pertama calon penumpang berangkat,’’ katanya, Jumat (20/9).

Idealnya, koridor tersebut harus berada di wilayah pinggiran kota. Akademisi yang meraih gelar doktor teknik sipil Universitas Parahyangan Bandung ini menerangkan, konsep tersebut juga tidak terlepas dari fasilitas park and ride yang strategis.

Rudy menerangkan, kawasan fasilitas park and ride tersebut harus berdekatan juga dengan koridor yang dilalui rute subway. Pun demikian dengan lokasi hunian bertingkat semacam apartemen. ’’Akses untuk masyarakat dari lokasi hunian harus senyaman mungkin,’’ kata Rudy. 

Sementara di wilayah perkampungan bisa menggunakan angkutan penyangga yang mengantarkan sampai pada koridor terdekat.

Rencana tersebut, dikatakan Rudy, adalah langkah awal yang harus dipersiapkan pemkot. Dengan begitu, pola pikir masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi akan berkurang.

’’Fasilitas yang nyaman dan kecepatan transportasi subway itu bisa mengubah masyarakat agar menggunakan subway,’’ pungkas akademisi yang pernah meneliti tentang Suroboyo Bus ini.


End of content

No more pages to load