Sejumlah warga Desa Marmoyo terlihat sedang memanfaatkan air di Sedang Tlimo untuk mencuci. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Sejumlah warga Desa Marmoyo terlihat sedang memanfaatkan air di Sedang Tlimo untuk mencuci. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)



Krisis air bersih karena kemarau panjang dialami oleh dua dusun di Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Untuk memenuhi kebutuhan, warga setempat memanfaatkan air dari sendang atau kolam air yang sudah terlihat keruh.

Kekeringan di Desa Marmoyo ini sudah terjadi setiap tahun pada waktu musim kemarau tiba. Dalam 5 bulan terakhir ini, warga setempat memanfaatkan sisa air yang hanya ada di Sendang Tlimo. Sendang tersebut berjarak 1 kilometer arah timur pemukiman Dusun Randurejo, Desa Marmoyo.

Pantauan wartawan di lokasi, sejumlah warga yang didominasi ibu-ibu rumah tangga terlihat sibuk mencuci baju di sendang tersebut. Tidak sedikit pula warga yang mengambil air untuk dibawa pulang guna kepentingan mandi.

Kondisi air di sendang terlihat keruh berwarna keabu-abuan. Debit air pun sudah mulai terlihat berkurang. Di atas air juga terlihat banyak kotoran dari reruntuhan daun dari pohon yang mengelilingi sendang tersebut.

Salah seorang warga setempat Supiah (61), mengaku sudah 5 bulan ini memanfaatkan air keruh di Sendang Tlimo untuk kebutuhan mencuci  hingga mandi. "Sudah 5 bulan ini kita manfaatkan air di sendang ini," ujarnya saat diwawancarai di Sendang Tlimo, (7/10).

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan minum, dikatakan Supiah, warga hanya mengandalkan kiriman air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang. Namun, kiriman air tersebut hanya 3 hari sekali.

"Kirimannya 2 hari sekali, kadang 3 hari sekali. Kalau segitu, ya tidak cukup. Harusnya setiap hari," tandasnya.

Sementara, Sekretaris Desa Marmoyo Sumandi mengatakan, kekeringan di desanya itu merupakan bencana tahunan. Hingga hari ini, ada dua dusun di Desa Marmoyo yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Dua dusun itu adalah Dusun Marmoyo dan Dusun Randurejo.

"Dua dusun itu ada 1.128 warga yang terdampak kekeringan," jelasnya saat dihubungi wartawan.

Dikatakan Sumandi, Oktober ini kondisi kekeringan di desanya sudah mulai parah. Sudah tidak ada sumber air yang bisa dimanfaatkan. Warga hanya mengandalkan kiriman air dari BPBD setiap 3 hari sekali, dan juga memanfaatkan air di Sendang Tlimo.

"Kiriman air itu 3 hari sekali, tangki 5 ribu liter. Itu untuk Dusun Marmoyo dan Randurejo. Kalau dihitung ya tidak cukup. Jadi, warga menyesuaikan," kata Sumandi.

Masih menurut Sumandi, di Desa Marmoyo mulai dilakukan pengeboran air dari anggaran Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Namun program untuk mengatasi kekeringan itu belum tuntas, sehingga masyarakat masih kesulitan air bersih.

"Pamsimas ini sudah dibor dan ketemu sumber airnya. Namun ini belum selesai pengerjaannya. Jadi, belum bisa dimanfaatkan. Sementara warga secara swadaya memanfaatkan dengan mesin diesel kecil. Sementara ya tidak bisa dimanfaatkan maksimal," pungkasnya.

 


End of content

No more pages to load