Penampakan situs petirtaan era Majapahit di Sendang Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Penampakan situs petirtaan era Majapahit di Sendang Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)



Ahli antropologi forensik Unair Surabaya berhasil mengungkap fragmen atau serpihan tulang yang ditemukan  tim arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim saat menggali di situs petirtaan peninggalan Majapahit di Jombang. Awalnya, temuan tersebut dicurigai sebagai tengkorak manusia.

Fragmen atau serpihan tulang itu ditemukan arkelog BPCB Jatim saat melakukan ekskavasi tahap dua pada situs petirtaan suci di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang. Temuan tersebut lantas dibawa oleh ahli antropologi forensik Unair Surabaya untuk diteliti di laboratorium.

Hasil uji laboratorium itu mengungkapkan, serpihan tulang yang ditemukan pada Jumat (4/10) itu bukanlah tengkorak manusia, melainkan tempurung kelapa dan tulang hewan. "Hasil uji laboratorium oleh ahli antropologi forensik Unair, serpihan itu tempurung kelapa dan tulang hewan dari famili kerbau dan sapi," jelas arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho saat dihubungi wartawan, Kamis (10/10) sore.

Dijelaskan Wicaksono, tulang yang berhasil diidentifikasi oleh ahli antropologi forensik itu berupa gigi binatang. Diduga, binatang itu terseret lahar dingin saat bencana gunung meletus hingga sampai di lokasi petirtaan dan terkubur.

"Kalau tempurung kelapa bisa jadi wadah minum saat ritual, bisa juga batok kelapa yang diisi sesaji untuk ritual, atau kelapa yang ikut terbawa banjir lahar dingin," ujarnya.

Sementara, proses ekskavasi yang dilakukan oleh BPCB Jatim itu kini sudah dihentikan. Dari 8 hari penggalian, pihaknya berhasil menemukan saluran pembuangan air petirtaan suci Majapahit.

Saluran buang itu berada di dinding utara petirtaan yang menuju ke arah timur, yaitu ke areal persawahan milik warga Dusun Sumberbeji. Saluran air baru terungkap sepanjang 10 meter.

"Kemungkinan saluran buang masih panjang. Tapi posisinya terpendam di sawah milik warga. Untuk ekskavasi, kami butuh izin dari pemilik lahan dan memberikan kompensasi," kata Wicaksono.

Selain itu, Wicaksono mengatakan, ekskavasi situs petirtaan suci Majapahit itu akan kembali dilakukan oleh BPCB Jatim pada awal November mendatang.

Target ekskavasi selanjutnya adalah untuk menguak bagian dalam kolam dan saluran buang. "Target ekskavasi kami untuk menampakkan bagian dalam kolam. Setelah itu, kami mencari saluran buang untuk dinormalisasi supaya situs Sumberbeji tidak terendam air," pungkasnya.

 


End of content

No more pages to load